Sebagai manusia:
Aku cacat!!!
sebab jiwamu tak lagi bersamaku
sebab belaianmu tak lagi bernyawa
dan
percintaan kita tinggalah jasad diatas jasad
Sebagai manusia:
Aku cacat!!!
sebab jiwamu tak lagi bersamaku
sebab belaianmu tak lagi bernyawa
dan
percintaan kita tinggalah jasad diatas jasad
jika kau adalah tujuan,
maka biarlah jarak menjadi batasan kearifan
hingga takdir menentukan…
kau yg diujung penantian ku,
datanglah dengan lembar halaman penghabisan
entah romansa ataupun satir,
sebuah cerita haruslah berakhir…
langkah ini begitu ringan
kujalani dengan kenikmatan
tanpa harap dan keinginan
tentang suatu yang akan
masihkah percaya?
segalanya tlah termaktubkan!
ada yang ingin ku ingkari
adayang ingin ku pungkiri
ada yang ingin ku sudahi
dan segala keberadaan ini
tak lain adalah diriku sendiri…
Sebatang rokok dan kopi dalam cawan;
Pahit – legit lekat di tenggorokan.
Ku seruput habis sesorean,
sambut bulan yang rindukan malam…
Ooh…
Nyanyian rindumu bagai candu…
Melantun dengan santun,
Membuai dengan gemulai.
Aku…
Lena karenanya
padamu sang batu,
aku takkan menjadi lahar yang meleburkan wujudmu
aku takkan menjadi air yang mengikis habis adamu
aku pahat yang mengukir indah parasmu dihatiku.
matamu binar sebab asmara
jantungmu berdebar menanti asa bersambut asa
tubuhmu gemetar mengiba cinta datang bersama jasadnya.
(jika aku yang kau cari mengapa tak kau hampiri?)
ku hisap rokok lintingan ku,
nyala bara menyahut,
bunyi “kretex” menimpali.
asap masuk ujung leher.
ku hembus habis asap itu.
BAH!!!
ada yang komentar:
“rokok gak gaul, ganggu aja!” (kena asap)
kujawab aja:
“jan tenan! ra ngerti ambe’ aku”.
puaskah kau?
membuatku terpaksa menelan ego
agar dapat ku muntahkan sepotong kata rindu
kenapa tak kau maknai saja sendiri?
bukankah rasa takkan tereja oleh kata?