aah… kerinduan…
kenapa tak jua pupus
meski aku dan Kau begitu dekat
bahkan teramat.
(Kau Yang Maha)
aah… kerinduan…
kenapa tak jua pupus
meski aku dan Kau begitu dekat
bahkan teramat.
(Kau Yang Maha)
Sory Tuhan,
kakiku terasa berat melangkah kesana
adakah kau mengenal shalat in absentia???
ku hisap rokok lintingan ku,
nyala bara menyahut,
bunyi “kretex” menimpali.
asap masuk ujung leher.
ku hembus habis asap itu.
BAH!!!
ada yang komentar:
“rokok gak gaul, ganggu aja!” (kena asap)
kujawab aja:
“jan tenan! ra ngerti ambe’ aku”.
oleh-oleh dari Zarathustra:
Tentang cinta
Aku cinta sekalian mereka yang laksana butir air yang berat, jatuh satu demi satu dari awan yang gelap, yang bergantung di atas kepala manusia: mereka memberitahukan bahwa petir akan datang dan mereka binasa sebagai pembawa berita….
Kita mencintai orang orang yang berbeda, berlutut di altar yang berbeda, meratap di muka nisan yang berbeda. namun pada akhirnya ujung perjalanan adalah sama. Kita ingin bahagia dan hidup penuh makna…
Hal berat dalam hidup ku
Apakah Hal yang berat itu?
Bukankah yang terberat itu: merendahkan dirimu sendiri agar melukai kesombonganmu? Membiarkan kesintingan mu keluar agar mengejek kearifan mu?
Ataukah hal itu: meninggalkan perjuangan kita disaat ia sedang merayakan kemenangannya? Guna mendaki pegunungan tinggi agar merayu si perayu?
Ataukah hal itu: mencintai mereka yang memusuhi kita, mengulurkan tangan kepada sang hantu ketika ia ingin mrnakuti kita?
Sungguh, aku sudah terlampau letih, bahkan untuk mati sekalipun!
tentang tidur dan kursi kebajikan
Tidur bukanlah seni yang sulit: yang kau perlukan hanya terjaga sepanjang hari untuk dapat melakukannya.
Hormatilah tidurmu dan berendah-hatilah padanya! Itulah yang utama.
Dan hindarilah orang-orang yang tidurnya resah serta terbangun di malam-malam.
Engkau harus bedamai kembali dengan dirimu sendiri: mengatasi kepahitan mu, sebab orang yang tidak berdamai dengan dirinya tidur dengan rusuh!
Kau harus menemukan sepuluh kebenaran dalam sehari. Sebab jika tidak, kau akan mencari kebenaran dimalam-malam pula sebab jiwamu masih kelaparan.
Kau harus tertawa dan bersikap dengan riang seharian atau jiwamu, ayah dari penyakit, akan mengganggumu di malam hari.
Aku tak inginkan banyak harta dan penghormatan, mereka membangkitkan kedengkian. Kedengkian menyebabkan tidur mjd tidak nyaman.
Alam semesta
Dunia tampak bagiku bagai karya suatu tuhan yang sedang menderita dan tersiksa.
Masa itu, dunia tampak bagiku seakan akan mimpi dan fiksi suatu tuhan. Dunia itu uap warna-warni di hadapan mata tuhan yang kecewa.
Ah! Tuhan yang ku ciptakan ini adalah hasil kegilaan ku, layaknya semua dewa-dewa…!
Sungguh, jika kehidupan tak masuk akal sedang aku harus memilih yang tidak masuk akal, inilah ketidakmasukakalan yang pantas bagiku pula.
tentang membaca dan menulis
Dari semua tulisan, yang kusukai dalah tulisan yang ditulis dengen darah. Dengan demikian akan kau temukan roh.
Ia yang menulis dengan darah dan aforisme tak ingin dibaca, ia ingin dipelajari dalam hati…
Aku mjd panas dan hangus oleh pemikiran-pemikiranku sendiri. Hal itu sering membuatku tak dapat bernafas. Aku penah meninggalkan rumah para sarjana dengan membanting pintu dibelakang ku.
Terlalu lama jiwaku duduk kelaparan dimeja mereka, aku belum belajar, sebagaimana mereka, untuk memecahkan pengetahuan seperti orang memcah kulit kacang!
Ketika mereka meyebut dirinya arif, kata-kata dan kebenaran kecil mereka membuatku puyeng! Kearifan mereka sering berbau rawa-rawa dan memang, aku mendengar kodok berkerok di dalamnya!
Mereka pintar,mereka memiliki jari-jari cerdik: apalah kesederhanaan-ku dibandingkan dengan keragaman mereka? (Jari-jari mereka memang sangat memahami ritme ketukan keyboard)
Tentang ku
Sedangkan aku:
Mereka tidak mengerti aku, aku bukanlah mulut untuk telinga-telinga itu. Perlukah telinga mereka itu dipotong dulu, supaya mereka belajar mendengar dengan matanya?
Mereka mengira aku dingin dan mengejek dengan ejekan yang keji.
Dan kini, mereka melihat kepada ku dan tertawa: dan sambil tertawa mereka membenciku pula. Dingin seperti es tawa mereka…
Tentang engkau
Engkau bagiku tampak seperti lidah api di pegunungan:
Engkau megerti bagaimana meraung dan bagaimana menggelapkan udara dengan abu. Engkau adalah pembual terbesar dan telah cukup belajar seni membuat lumpur mendidih!