Indah, bait-bait puisi yang kau gubah
Kata seakan bernyawa, berceloteh duka tentang kuncup yang binasa.
Sungguh ini sebuah ironi.
Tahukah kau bahwa kuncup-kuncup itu kini bersemayam di jantungku, menggerogoti setiap asa yang kupunya. Kau tak pernah membiarkannya menjadi merah. Cukup sampai disitu, katamu, sebab cinta itu kelabu… Apa daya, detak-detak cinta tak sehangat kemarin, gairah asmara sudah tak mengalir di nadinya sedari kuncup2 itu menjadi lesu.
Jika hanya kata yang bernyawa diantara kita
Ingin ku tikam saja dia, agar tak ada lagi cerita yang ”telah” menjadi cerita.
