Aku menjadi berang karna tingkahnya;
puisi2 matirasa, lenggak-lenggok di panggung sandiwara, cyber maya…
Mari ku tikam2 saja
Biar tiada nyawa
Biar mati saja
Hidup pun tak kan guna…
puisi-puisi cyber-maya 15 November 2009
menjadi malaikat 15 November 2009
setelah badai itu mengering, hujan pun menjadi redup.
hatiku yang gerimis, kini terbang tinggi melangit.
ku sapa pucuk-pucuk cemara : “tidakkah kau lihat? ada halo diatas kepalaku!”
nikmati saja kini, indah sayapku terkepak…
aku malaikat itu, diantara tuhan-tuhan kecil sepertimu
aku malaikat itu, diantara laknat dan murka mu
dan saat kiamat mu menjadi tamat
aku tetaplah malaikat itu, pada sabda mu yang tak lagi keramat…
Kita (in memoriam) 30 Mei 2009
Ku temukan dia diam membatu diatas kepala ku
tepat dimana aku berbaring kaku tak bernyawa
tertimbun tanah yang masih segar dipangkal sore.
di dadanya ada namaku terpahat
pun tanggal lahirku yg tak pernah ia ingat…
Panji Prasetyo at 12:20am May 27
Sudah terlambat bagi ku untuk meninggalkan memori yg menjadi bahasa bagi mu.
cukuplah kau sebagai nisan ku
biarkan para peziarah datang melantunkan doa2
dan pulang membawa cerita
mungkin tidak untuk kita, tapi anak cucu mereka
Panji Prasetyo at 12:20am May 27
ya, hanya diam….
hanya kesedihan tapi tak ada air mata
lalu mereka bernyanyi, bernyanyi lagu-lagu kami, lagu tentang hidup mereka……
dan mereka yakin semuanya tidak akan berakhir disini”
Jika hanya kata yang bernyawa diantara kita 29 Maret 2009
Indah, bait-bait puisi yang kau gubah
Kata seakan bernyawa, berceloteh duka tentang kuncup yang binasa.
Sungguh ini sebuah ironi.
Tahukah kau bahwa kuncup-kuncup itu kini bersemayam di jantungku, menggerogoti setiap asa yang kupunya. Kau tak pernah membiarkannya menjadi merah. Cukup sampai disitu, katamu, sebab cinta itu kelabu… Apa daya, detak-detak cinta tak sehangat kemarin, gairah asmara sudah tak mengalir di nadinya sedari kuncup2 itu menjadi lesu.
Jika hanya kata yang bernyawa diantara kita
Ingin ku tikam saja dia, agar tak ada lagi cerita yang ”telah” menjadi cerita.
sungguh, cinta yang kau hadirkan ini bagai dajjal 10 Desember 2008
inikah rupa cinta yang pernah kau tawarkan dulu?
sungguh, cinta yang kau hadirkan ini bagai dajjal…
inilah ketidak masuk akalan yang pantas bagiku ketika bercinta dalam istana bermuda
Aku dan segala pemikiran ku 3 November 2008
oleh-oleh dari Zarathustra:
Tentang cinta
Aku cinta sekalian mereka yang laksana butir air yang berat, jatuh satu demi satu dari awan yang gelap, yang bergantung di atas kepala manusia: mereka memberitahukan bahwa petir akan datang dan mereka binasa sebagai pembawa berita….
Kita mencintai orang orang yang berbeda, berlutut di altar yang berbeda, meratap di muka nisan yang berbeda. namun pada akhirnya ujung perjalanan adalah sama. Kita ingin bahagia dan hidup penuh makna…
Hal berat dalam hidup ku
Apakah Hal yang berat itu?
Bukankah yang terberat itu: merendahkan dirimu sendiri agar melukai kesombonganmu? Membiarkan kesintingan mu keluar agar mengejek kearifan mu?
Ataukah hal itu: meninggalkan perjuangan kita disaat ia sedang merayakan kemenangannya? Guna mendaki pegunungan tinggi agar merayu si perayu?
Ataukah hal itu: mencintai mereka yang memusuhi kita, mengulurkan tangan kepada sang hantu ketika ia ingin mrnakuti kita?
Sungguh, aku sudah terlampau letih, bahkan untuk mati sekalipun!
tentang tidur dan kursi kebajikan
Tidur bukanlah seni yang sulit: yang kau perlukan hanya terjaga sepanjang hari untuk dapat melakukannya.
Hormatilah tidurmu dan berendah-hatilah padanya! Itulah yang utama.
Dan hindarilah orang-orang yang tidurnya resah serta terbangun di malam-malam.
Engkau harus bedamai kembali dengan dirimu sendiri: mengatasi kepahitan mu, sebab orang yang tidak berdamai dengan dirinya tidur dengan rusuh!
Kau harus menemukan sepuluh kebenaran dalam sehari. Sebab jika tidak, kau akan mencari kebenaran dimalam-malam pula sebab jiwamu masih kelaparan.
Kau harus tertawa dan bersikap dengan riang seharian atau jiwamu, ayah dari penyakit, akan mengganggumu di malam hari.
Aku tak inginkan banyak harta dan penghormatan, mereka membangkitkan kedengkian. Kedengkian menyebabkan tidur mjd tidak nyaman.
Alam semesta
Dunia tampak bagiku bagai karya suatu tuhan yang sedang menderita dan tersiksa.
Masa itu, dunia tampak bagiku seakan akan mimpi dan fiksi suatu tuhan. Dunia itu uap warna-warni di hadapan mata tuhan yang kecewa.
Ah! Tuhan yang ku ciptakan ini adalah hasil kegilaan ku, layaknya semua dewa-dewa…!
Sungguh, jika kehidupan tak masuk akal sedang aku harus memilih yang tidak masuk akal, inilah ketidakmasukakalan yang pantas bagiku pula.
tentang membaca dan menulis
Dari semua tulisan, yang kusukai dalah tulisan yang ditulis dengen darah. Dengan demikian akan kau temukan roh.
Ia yang menulis dengan darah dan aforisme tak ingin dibaca, ia ingin dipelajari dalam hati…
Aku mjd panas dan hangus oleh pemikiran-pemikiranku sendiri. Hal itu sering membuatku tak dapat bernafas. Aku penah meninggalkan rumah para sarjana dengan membanting pintu dibelakang ku.
Terlalu lama jiwaku duduk kelaparan dimeja mereka, aku belum belajar, sebagaimana mereka, untuk memecahkan pengetahuan seperti orang memcah kulit kacang!
Ketika mereka meyebut dirinya arif, kata-kata dan kebenaran kecil mereka membuatku puyeng! Kearifan mereka sering berbau rawa-rawa dan memang, aku mendengar kodok berkerok di dalamnya!
Mereka pintar,mereka memiliki jari-jari cerdik: apalah kesederhanaan-ku dibandingkan dengan keragaman mereka? (Jari-jari mereka memang sangat memahami ritme ketukan keyboard)
Tentang ku
Sedangkan aku:
Mereka tidak mengerti aku, aku bukanlah mulut untuk telinga-telinga itu. Perlukah telinga mereka itu dipotong dulu, supaya mereka belajar mendengar dengan matanya?
Mereka mengira aku dingin dan mengejek dengan ejekan yang keji.
Dan kini, mereka melihat kepada ku dan tertawa: dan sambil tertawa mereka membenciku pula. Dingin seperti es tawa mereka…
Tentang engkau
Engkau bagiku tampak seperti lidah api di pegunungan:
Engkau megerti bagaimana meraung dan bagaimana menggelapkan udara dengan abu. Engkau adalah pembual terbesar dan telah cukup belajar seni membuat lumpur mendidih!
PROGRES AMBE’ UDUTH 7 November 2008
ku hisap rokok lintingan ku,
nyala bara menyahut,
bunyi “kretex” menimpali.
asap masuk ujung leher.
ku hembus habis asap itu.
BAH!!!
ada yang komentar:
“rokok gak gaul, ganggu aja!” (kena asap)
kujawab aja:
“jan tenan! ra ngerti ambe’ aku”.
Hanya Jika 7 November 2008
jika kau adalah tujuan,
maka biarlah jarak menjadi batasan kearifan
hingga takdir menentukan…
kau yg diujung penantian ku,
datanglah dengan lembar halaman penghabisan
entah romansa ataupun satir,
sebuah cerita haruslah berakhir…
einstein penipu??? 7 November 2008
Jika cinta yang ku percayai ini adalah energi,
Mengapa rumus dan hukum kekekalan energi tidak dapat mengurainya?
Atau memberi jawab atas apa yang tak tertanya?
Apakah Einstein penipu?
selamat pagi sayang… 31 Maret 2009
selamat pagi sayang,
waktunya keluar kandang
bangun dan pergi berjuang
seperti angsa giat pergi berkubang
sampai nanti datang petang.
sayang, jangan lupa sarapan
biar kuat dan gak kelaparan
lalu pingsan di jalanan
kan kasian…
udah ga bakalan ada yang nolongin,
malah hape dan dompet kamu di rampokin.
kamunya di biarin terkapar di aspal dingin
sampe kamu masuk angin
duh, ga tega aku ngabayangin…
rindu 9 November 2008
aah… kerinduan…
kenapa tak jua pupus
meski aku dan Kau begitu dekat
bahkan teramat.
(Kau Yang Maha)
ke Masjid 9 November 2008
Sory Tuhan,
kakiku terasa berat melangkah kesana
adakah kau mengenal shalat in absentia???
selamat pagi cinta! 7 November 2008
mentari semarak di jendela kamar mu.
tidakkah kau terusik oleh kegaduhannya?
surga itu jauh, sementara kau;
sedang asikkah mengunyah mimpi?
Aku Ingin apa??? 7 November 2008
pertanyaanmu sederhana saja:
“apa yang kau inginkan?”
jawabanku singkat saja:
“pengakuan dan kenyamanan”
mampukah kau menerjemahkannya?
